Sabtu, 04 Desember 2010

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Motivasi Siswa SMA dalam Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam mengerjakan PR dan cara-cara meningkatkan motivasi tersebut. Informan dalam penelitian ini adalah 6 orang siswa SMA dan 3 orang guru pengajarnya. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode FGD (Focus Group Discussion) dan wawancara individual, serta dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi dalam mengerjakan PR dapat dikelompokkan menjadi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi tindak lanjut guru dalam pemberian PR, pemberian nilai, jenis, beban dan waktu pemberian serta tingkat kesulitan PR, bahan atau sumber untuk mengerjakan PR, cara mengajar dan karakteristik guru, pengaruh teman, dan juga dukungan keluarga. Faktor internal meliputi manfaat yang dirasakan, minat terhadap pelajaran, serta kondisi fisik. Beberapa implikasi cara untuk meningkatkan motivasi pengerjaan PR adalah memperhatikan tindak lanjut dalam pemberian PR, perancangan PR yang menjawab kebutuhan, pemberian pengetahuan/informasi dasar yang memungkinkan untuk berekplorasi, peningkatan kemampuan guru dalam mengajar dan menjalin relasi interpersonal.
Kata kunci: motivasi mengerjakan PR, pekerjaan rumah (PR), siswa SMA, dan motivasi belajar
BAB I
PENDAHULUAN
Di sekolah terdapat proses belajar mengajar yang merupakan interaksi antara guru dan siswa. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada proses belajar yang dialami siswa itu sendiri sebagai anak didik. Agar siswa berhasil, siswa harus mampu memahami materi pelajaran yang nantinya diharapkan siswa dapat menyelesaikan ujian dengan baik sebagai hasil evaluasi belajar.
Dalam aktivitas belajar salah satu hal yang dilakukan guru selain menjelaskan materi adalah memberikan tugas. Tugas tersebut meliputi menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), ulangan harian, ulangan umum, dan juga ujian (Slameto, 1988). Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
Hal yang menjadi perhatian peneliti di sini adalah pekerjaan rumah (PR). Menurut Cooper (dalam Novianti, 2003), PR merupakan tugas yang diberikan pada pelajar oleh guru sekolah untuk dikerjakan di luar sekolah. Alasan pemberian PR adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi-materi yang telah diajarkan oleh guru. Lindsay dan Cooper (dalam Novianti, 2003) menambahkan pula bahwa PR adalah alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan. PR dipercaya menjadi arti penting bagi kedisiplinan ingatan murid. Ingatan tidak hanya digunakan sebagai perolehan pengetahuan saja tetapi juga sebagai latihan mental individu. Oleh karena itu PR dianggap sebagai strategi penting dalam pengajaran.
Berkaitan dengan hal tersebut peneliti melakukan studi awal melalui angket kepada siswa-siswa dari setiap jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, SMA di Surabaya. Dari survei tersebut peneliti memperoleh data tentang pandangan siswa tentang PR, cara mereka mengerjakan PR, serta faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam menyelesaikan PR-nya. Hasil dari studi awal terhadap 30 anak SD menunjukkan bahwa seluruh siswa (100%) memiliki pandangan yang positif terhadap PR. Mereka menganggap bahwa PR dapat menambah wawasan atau pengetahuan dan melatih siswa. Ketika PR tersebut diberikan sebagai tugas yang harus dikerjakan, mereka berusaha mengerjakan. Jika mereka merasa kesulitan, mereka akan bertanya kepada orang tua atau saudara.
Studi awal terhadap 10 siswa SMP, 70% menyatakan bahwa PR perlu diberikan dengan alasan untuk melatih siswanya dalam memahami materi yang sudah diajarkan, sedangkan sisanya menyatakan bahwa PR tidak perlu diberikan dengan alasan bahwa siswa sudah cukup lelah di sekolah sehingga waktu di rumah adalah waktu untuk beristirahat. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa 90 % siswa berusaha menyelesaikan PR tersebut. Para siswa bertanya kepada orang tua, saudara, dan guru les mereka ketika mereka merasa kesulitan mengerjakan PR.
Hasil studi awal pada 42 siswa SMA menunjukkan 72% siswa menyatakan PR penting untuk melatih siswa, supaya siswa lebih memahami materi yang diajarkan, dan agar siswa belajar. Sisanya menyatakan bahwa PR itu tidak perlu diberikan karena dianggap membebani siswa. Hasil juga menunjukkan bahwa hampir separoh, yaitu 43% dari 42 siswa mengerjakan PR di sekolah dengan melihat hasil kerja teman yang lain. 83% siswa menyatakan dirinya sering menunda mengerjakan tugas, dengan alasan malas dan banyaknya tugas yang lain.
Studi awal di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan siswa, semakin banyak yang tidak mengerjakan PR. Hal tersebut menjadikan tujuan guru memberikan tugas tersebut tidak tercapai karena kebanyakan mereka yang mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah itu mencontek dari teman yang sudah mengerjakan. Pada siswa SMA banyak yang menganggap PR itu penting, namun kenyataannya mereka tidak menjadikan PR itu sebagaimana mestinya. Berdasarkan uraian tersebut, tampak bahwa PR yang diberikan tidak dapat mencapai tujuannya. Padahal jika dilihat dari tujuan pemberian PR itu sendiri adalah supaya siswa berlatih, mengolah kembali materi pelajaran, menyusun jalan pikiran secara berantai, belajar membagi waktunya dengan baik, belajar teknik-teknik studi yang efisien dan efektif (Winkel, 2005). Beranjak dari fenomena diatas peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Adanya informasi mengenai faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi para guru mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membuat PR menjadi lebih efektif, dan membangkitkan motivasi siswa dalam mengerjakan PR.


2. Kajian literatur
Brink (dalam Novianti, 2003) menyatakan bahwa PR dapat digunakan sebagai alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan. PR dapat berguna bagi kedisiplinan ingatan murid. PR merupakan suatu latihan mental yang baik, karena melatih ingatan dan pengetahuan yang diperoleh dari sekolah untuk dipelajari ulang di rumah. Oleh karena itu, PR dianggap sebagai strategi penting dalam suatu proses belajar.
PR merupakan salah satu bagian dari evaluasi yang dilakukan oleh pengajar terhadap proses belajar-mengajar. Evaluasi berarti penentuan sampai seberapa jauh sesuatu berharga, bermutu atau bernilai. Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan terhadap proses belajar-mengajar mengandung penilaian terhadap hasil belajar atau proses belajar itu, sampai seberapa jauh keduanya dapat dinilai baik (Winkel, 2005).
Nasution (2005) membagi pekerjaan rumah ke dalam beberapa bentuk. Bentuk pertama adalah pekerjaan rumah sebagai belajar sendiri. Contoh-contoh dari pekerjaan rumah bentuk pertama adalah mempelajari satu bab dari buku pelajaran, menterjemahkan bahasa asing, membaca dan menghafal sajak. Pekerjaan rumah ini efektif jika bahan tersebut dapat dipelajari sendiri oleh murid.
Bentuk kedua adalah pekerjaan rumah sebagai latihan. Contohnya adalah membuat soal matematika atau fisika yang sudah dipelajari aturan dan prinsip-prinsipnya. Syaratnya agar efektif ialah bahwa semua siswa telah memahami aturan itu dan telah sanggup menerapkannya. Bila siswa-siswa tidak atau belum memiliki pengetahuan dan kemampuan itu, maka siswa akan kandas dan tak sanggup membuat pekerjaan rumah itu. Siswa merasa frustasi dan merasa jengkel terhadap bidang studi itu atau menyalinnya saja dari teman sekelas. Pekerjaan rumah serupa itu sudah jelas tidak ada bahkan negatif hasilnya.
Bentuk ketiga adalah pekerjaan rumah yang berbentuk proyek. Pada pekerjaan rumah yang berupa proyek biasanya siswa ditugaskan untuk mengumpulkan sejumlah bahan berhubungan dengan suatu masalah untuk menyusun laporan, membuat percobaan, atau demonstrasi. Efektif tidaknya pekerjaan rumah ini bergantung antara lain pada sifat pekerjaan itu. Jika pekerjaan itu terlalu sulit, maka tidak akan efektif. Jadi masalah yang dihadapkan kepada anak harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan kemampuan anak agar efektif.
Pada umumnya pekerjaan rumah dipandang sebagai unsur yang penting dalam pengajaran. Hasil belajar murid banyak ditentukan hingga manakah ia melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik dan jujur. Fungsi pekerjaan rumah yang terpenting ialah mendorong anak belajar sendiri.Agar pekerjaan rumah menjadi efektif, Nasution (2005) menyarankan agar pekerjaan rumah yang diberikan harus diintegrasikan dengan apa yang telah dipelajari anak sebelumnya. Pekerjaan rumah harus didasarkan atas apa yang telah dikuasai anak. Di samping itu pekerjaan rumah harus didasarkan pada pengetahuan dan ketrampilan yang telah dikuasai oleh semua murid. Pengajaran berprograma sangat efektif sebagai pekerjaan rumah.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat dampak positif pekerjaan rumah terhadap siswa baik secara akademis maupun tidak (misalnya Eren & Henderson, 2006; Cooper, Robinson and Patall, 2006; Corno and Xu, 2004; Johnson and Pontius, 1989; Warton, 2001 (dalam The Centre for Public Education, 2007). Penelitian terdahulu juga banyak ditujukan pada upaya untuk melihat kelompok siswa yang paling mendapatkan manfaat dari pengerjaan PR (misalnya Cooper 1989; Goldmen and Varenne 1984; Hoover-Dempsey et al., 2001; Keith and Benson, 1992; Leone and Richards 1989; Muhlenbruck et al. 2000; McDermott, Scott-Jones 1984, (dalam Centre for Public Education, 2007). Akan tetapi masih sangat minim penelitian yang menggali secara komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR, lebih-lebih yang dilakukan dalam konteks di Indonesia. Kogan dan Rueda (1997) meneliti sikap terhadap PR pada siswa kelompok minoritas di California dengan membandingkan PR yang berorientasikan siswa (student-centered homework) dan PR yang berorientasikan pada instruksi guru (teacher-directed homework assignments). Hasil menunjukkan bahwa lebih banyak siswa mengerjakan PR yang berorientasikan siswa (student-centered homework) dibandingkan PR yang berorientasikan instruksi guru (teacher-directed homework). Novianti (2003) melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara minat belajar dengan sikap terhadap pekerjaan rumah pada siswa kelas V SD. Namun penelitian-penelitian ini tidak berhasil mengungkap secara menyeluruh faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi pengerjaan PR pada siswa SMA. Karena itulah perlu sekali dilakukan penelitian di konteks Indonesia untuk menggali secara menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi dalam mengerjakan PR.
3. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi deskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang siswa SMA X Surabaya dan 3 orang guru pengajarnya. Pemilihan informan penelitian ini berdasarkan pengambilan sampel kasus tipikal, yaitu sampel yang dianggap dapat mewakili kelompok normal dari fenomena yang sedang diteliti (Poerwandari, 2001).
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur, dimana dalam melakukan wawancara peneliti menggunakan pedoman wawancara mengenai aspek-aspek yang akan dibahas atau dipertanyakan, namun tidak membatasi jika ada pertanyaan di luar pedoman sepanjang itu relevan dengan topik penelitian. Wawancara kepada siswa dilakukan secara kelompok (Focus Group Discussion) dan individual. Kepada guru-guru diberikan angket terbuka, karena menolak untuk diwawancara.
Analisis dilakukan secara tematik dengan mengikuti langkah-langkah analisis yang disarankan oleh Strauss dan Corbin (1998). Untuk meningkatkan kredibilitas dalam penelitian ini, maka peneliti melakukan triangulasi metode dan data (Bryman, 2001).

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari keenam informan siswa SMA, ada banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA terhadap PR. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam pengerjaan PR dapat dikelompokkan ke dalam faktor ekternal dan internal.
A. Faktor Eksternal
1.1. Tindak lanjut guru dalam pemberian PR
Faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa dalam mengerjakan PR adalah tindak lanjut dari pemberian PR. Seluruh siswa dalam penelitian ini merasakan bahwa guru yang kurang memperhatikan tindak lanjut dari pemberian PR menjadikan mereka kurang termotivasi mengerjakan PR. Sekalipun para guru menyatakan bahwa mereka membahas, mencocokkan dan memberikan nilai pada PR siswa, namun sebagian siswa menyatakan bahwa guru biasanya hanya membahas soal-soal PR yang dianggapnya sulit atau hanya menandatangi PR yang sudah mereka kerjakan tanpa membahasnya. Menurut mereka soal yang sulit bagi seseorang belum tentu sulit bagi yang lain, karenanya mereka ingin sekali soal-soal PR dapat dibahas semuanya, sehingga mereka dapat mengetahui benar-tidaknya yang telah mereka kerjakan.
“kadang-kadang ada yang langsung guru itu ga bahas semuanya cuman yang sulit yang mana yang dibahas gitu. … pengennya semua dibahas soalnya kalo kita cuman yang sulit aja yang dibahas nah yang lainnya kan ga tau itu betul apa salah jawabannya”(Wawancara Individu Lia, No: 4)
“ .. tapi kalo cuman dikumpulin trus ditandatangani kita ya jadi males ngerjain PR.”(Wawancara Individu Hendy, No:5)
Guru sebagai informan di sini memang menyatakan bahwa ia melakukan tindak lanjut terhadap PR yang diberikan. Namum tampaknya tindak lanjut belum diberikan secara maksimal sehingga hal tersebut mengurangi motivasi siswa dalam mengerjakan PR.
Apa yang disampaikan oleh para siswa selaku informan sejalan dengan yang dikemukakan oleh Rusyan et al. (1989), bahwa peserta didik yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan itu akan menimbulkan kepuasan dan akan mendorong belajar yang lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi atau dapat pula menjadi cambuk. Ketika siswa tidak tahu hasil dari mengerjakan PR maka ia tidak akan termotivasi untuk mengerjakan PR. Demikian juga menurut Nasution (2005), bahwa tidak ada metode mengajar yang menjamin keberhasilan. Keberhasilan baru diketahui bila ada penilaian yang dapat menunjukkan kesalahan dan kekurangan sebagai umpan balik (feedback) untuk diperbaiki. Mengabaikan feedback adalah meniadakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar.
1.2. Pemberian nilai
Faktor pemberian nilai juga ikut mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Menurut para siswa, tidak adanya pemberian nilai untuk apa yang sudah mereka kerjakan akan menurunkan motivasi mereka dalam mengerjakan PR.
“ya..yang ga dikumpulin, ga dibahas dan dikasih nilai. Wes…cuma ditandatangani..yah cuma ditandatangani thok..kita ga tahu nilainya apa ..i know..jadi kerjaan mikir-mikir, susah-susah lho..ya ga diajarin..akhirnya ya kita males..ya udah, (Wawancara FGD Ana, No: 61)
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Woolfolk (1993), bahwa siswa perlu mendapatkan penghargaan dan reward (hadiah) atas apa yang telah mereka kerjakan. Reward yang diberikan bisa berupa nilai, hadiah atau sekedar pujian, dengan demikian siswa akan termotivasi untuk mengerjakan PR.
1.3. Jenis PR
Jenis PR yang diberikan oleh guru juga mempengaruhi motivasi siswa untuk mengerjakannya. Guru mengatakan bahwa jenis PR yang diberikan berbeda-beda untuk tiap mata pelajaran. Semua tergantung dari materi pelajarannya. Tiap guru memiliki cara yang berbeda pula untuk membuat siswa tertarik dengan PR yang diberikan.
Para siswa menyatakan bahwa selama ini sekolah banyak menggunakan BTS sebagai panduan siswa mengerjakan tugas. Dalam BTS terdapat soal-soal latihan dari materi pelajaran yang diajarkan. Pada kenyataannya siswa lebih tertarik mengerjakan PR dari hasil observasi, praktikum atau mencari artikel-artikel dari koran dan tidak hanya dari BTS (Buku Tugas Siswa).
“o..kalo aku sendiri sih..kalo kasih PR ga harus ngeteks gitu kaya di BTS atau ditulis dipapan gitu ga..ya gurunya supaya lebih kreatif lah dengan cara apa ya..ngasih tugas praktek, observasi gitu ya..jadi anak akan jadi lebih kreatif gitu lho..ga harus ngeteks kaya dibuku terus..”
“ya..pengaruh banget, kalo meneliti-meneliti gitu kan seru, kaya mainan gitu lho jadi seneng ngerjainnya.kelapangan.”
Sejalan dengan hal tersebut Woolfolk (1993) mengatakan bahwa tugas harus dapat membangkitkan ketertarikan dan rasa ingin tahu bagi siswa. Ketika tugas tersebut tidak menarik bagi siswa maka ia tidak akan termotivasi untuk mengerjakan PR-nya.


1.4. Beban dan waktu pemberian PR
Banyaknya PR yang diberikan dan waktu pemberian PR juga mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Salah satu yang dirasa siswa menjadi penyebab mereka tidak mengerjakan PR adalah banyak PR yang harus mereka kerjakan dalam waktu yang bersamaan. Siswa merasa bahwa pada saat-saat tertentu mereka mendapat PR dari berbagai mata pelajaran secara bersamaan. Hal ini menyulitkan mereka dalam mengerjakan PR dengan baik.
“iya terlalu banyak, kadang ..kalo PRnya sedikit sih ga papa.tapi kenyataan sendiri PRnya banyak..ya apa ya..kaya..jadi pelajaran ini-pelajaran ini..langsung jadi PR satu hari.”
Kondisi ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara para guru pengajar, sehingga pemberian tugas dapat dijadwalkan dengan lebih baik. Di samping itu, hal ini juga menunjukkan perlunya usaha integratif dari para guru, sehingga satu tugas dapat mencapai sasaran pengajaran dari berbagai mata pelajaran.
Waktu pemberian PR menurut guru juga ikut mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Seluruh guru dalam penelitian ini mengatakan bahwa mereka memberikan PR ketika materi pelajaran selesai diberikan. Namun, banyak siswa dalam penelitian ini mengeluhkan bahwa sekarang ini banyak tugas yang diberikan oleh guru sebelum materi pelajaran diberikan, sehingga hal tersebut menjadi hambatan bagi siswa untuk mengerjakannya. Siswa merasa kesulitan karena tidak tahu materi yang diajarkan.
kadang-kadang gurunya itu ada yang ga nerangin trus ngasihin PR gitu ya … kita kan ndak tahu gimana caranya nyelesaikannya kita kan ga tahu moro-moro ujuk-ujuk ‘ini nanti kerjakan ini, besok baru diterangin’
Meskipun siswa menyadari bahwa kurikulum yang digunakan dalam sekolah adalah KBK dimana siswa dituntut untuk lebih aktif, namun kebanyakan siswa merasa malas mengerjakan PR karena tidak mengerti materi apa yang digunakan untuk mengerjakan PR. Siswa ingin guru menerangkan terlebih dahulu materi pelajaran dengan baik sehingga ketika guru memberikan PR siswa tahu bagaimana harus mengerjakan.
Nasution (2005) menyatakan bahwa tugas guru yang utama sekarang ini bukan lagi menyampaikan pengetahuan, melainkan memupuk pengertian, membimbing mereka untuk belajar sendiri. Namun demikian hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar