Minggu, 15 Mei 2011

kepemimpinan dalam kelompok

PENDAHULUAN


Latar Belakang penelitian


Kepemimpinan dalam kelompok menjadi hal yang sangat strategis untuk diperhatikan pada usaha pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kelompok. Kepemimpinan kelompok merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi anggota kelompoknya untuk bertingkah laku seperti yang dikehendaki oleh pemimpin dalam mencapai tujuan kelompok secara bersama.
Dalam kelompok selalu ada pemimpin yang dapat menampilkan berbagai peranan, khususnya dalam mengerakkan anggota agar melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok. Alasan lain pentingnya kepemimpinan dalam kelompok adalah pada berbagai kondisi masyarakat desa, maupun masyarakat kota yang satu dengan lain sangat berbeda karakteristiknya serta cara mencapai tujuan dari kelompok itu sendiri.
Kelompok keswadayaan masyarakat adalah kelembagaan yang dirancang untuk membangun kembali kehidupan masyarakat mandiri yang mampu mengatasi kemiskinannya sendiri. Di samping itu kelompok keswadayaan masyarakat mengemban misi untuk menumbuhkan kembali ikatan-ikatan sosial dan menggalang solidaritas sosial sesama warga agar saling bekerja sama demi kebaikan bersama.
Pada kelompok masyarakat kota dicirikan dengan masyarakat yang sudah meninggalkan tradisi dan adat-istiadat, di sisi lain masyarakat miskin kota belum memiliki mobilitas yang tinggi dan masih terbatas akses terhadap berbagai kemajuan indutrialisasi, informasi dan tehnologi. Seiring dengan kondisi ini perubahan yang terjadi pada masyarakat kota berlangsung secara cepat bila dibandingkan dengan komunitas masyarakat desa. Peran dari stakeholder termasuk pemimpin kelompok yang ada dalam

masyarakat kota menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh semua pihak maupun agen pembaharu dalam pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat miskin kota.
Pengamatan menunjukkan bahwa komunitas masyarakat miskin kota pada hakekatnya, berkeinginan untuk mengadakan perubahan-perubahan yang akhirnya dapat membawa perbaikan taraf hidup. Di sinilah peran agen dan pembaharu baik yang bersumber dari pemerintah seperti penyuluh maupun LSM untuk bisa menjembatani pencapaian tujuan dengan berbagai program pemberdayaan sesuai dengan sumberdaya alam, budaya dan tipe interaksi sosial dalam kelompok masyarakat tersebut.
Keberadaan kepemimpinan kelompok pada masyarakat miskin di perkotaan yang berbeda sejalan dengan karakteristik anggotanya, maka diperlukan kepemimpinan yang berbeda pula baik dalam hal pengetahuan, ketrampilan, pengalaman maupun karakteristik dari kelompok itu sendiri serta peranan dari kepemimpinan kelompok dalam usaha meningkatkan kedinamisan masyarakat miskin perkotaan yang akhirnya akan mempercepat proses pemberdayaan masyarakat miskin kota.


Masalah Penelitian

Dalam usaha mendinamiskan anggota kelompok keswadayaan masyarakat miskin perkotaan di mana peran pemimpin kelompok dianggap sangat penting, maka ada tuntutan yang harus dijawab: pemimpin yang bagaimana yang ideal bagi peningkatan kedinamisan masyarakat miskin perkotaan berdasarkan faktor internal dan ekternal dalam kelompok masyarakat miskin perkotaan. Berpijak dari masalah ini maka pertanyaan penelitian yang akan dikaji adalah sebagai berikut:

1. Apa faktor-faktor internal dan eksternal anggota kelompok swadaya masyarakat miskin kota?
2. Sejauh mana persepsi anggota tentang peran pemimpin kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan?
3. Bagaimana hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan persepsi anggota terhadap peran pemimpin kelompok pada masyarakat miskin perkotaan.


Tujuan Penelitian

Dari pertanyaan penelitian di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal anggota kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan.
2) Mengetahui persepsi anggota terhadap peran pemimpin kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan
3) Menjelaskan hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan pesepsi anggota terhadap peran pempimpin kelompok pada masyarakat miskin perkotaan.



Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan pengetahuan, dan para praktisi yang berkecimpung langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Lebih khusus diharapkan bermanfaat bagi:

1. Pemerintah dan pihak terkait

a) Memberikan masukan kepada pemerintah dalam usaha pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dengan tidak mengabaikan peranan pemimpin kelompok dalam pengambilan kebijakan pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan.
b) Memberikan kritikan dan saran tentang pergeseran peranan kepemimpinan kelompok pada berbagai kondisi masyarakat bagi pihak-pihak yang berkecimpung langsung sebagai agen pembaharu (pemerintah / LSM) dalam pemberdayaan masyarakat di masa yang akan datang.



2. Penguruan Tinggi

a) Memberikan sumbangan pemikiran yang dapat menambah khasanah keilmuan di bidang penyuluhan pembangunan tentang pentingnya kepemimpinan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat.
b) Memberikan kontribusi informasi awal bagi penelitian selanjutnya, dalam usaha mendapatkan model pemberdayaan kelompok yang ideal pada masyarakat miskin perkotaan melalui kajian peranan pemimpin kelompok.

Definisi Istilah

Definisi beberapa istilah dan menjadi peubah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Faktor internal dan eksternal kelompok adalah faktor-faktor yang ada dalam kelompok dan yang berasal dari luar kelompok terdiri atas:
• Umur adalah usia anggota kelompok swadaya masyarakat miskin kota yang dihitung sejak lahir sampai saat menjadi responden dalam penelitian ini, diukur dalam jumlah tahun.
• Pendidikan formal adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang berhasil dicapai responden, diukur dalam skala nominal: rendah, sedang dan tinggi yang dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan formal yang di capai.
• Pendidikan non formal adalah pendidikan (pelatihan, kursus, magang dan sebagainya) yang diterima responden diluar pendidikan formal yang dapat menunjang kegiatan usaha. diukur dalam skala nominal: pernah dan tidak pernah yang dikelompokkan berdasarkan pernah atau tidak responden mengikuti pendidikan non formal.
• Pengalaman berusaha yaitu lama anggota berusaha yang dilakukan oleh anggota kelompok sesuai dengan jenis usahanya, diukur dalam skala nominal dikelompokkan berdasarkan jumlah tahun bekerja sedikit, sedang dan banyak.
• Aset usaha adalah sarana dan prasarana yang dimiliki atau ada pada anggota kelompok yang dimanfaatkan untuk usaha yang ditekuninya, diukur dalam skala nominal; sedikit, cukup banyak dan banyak, dikelompokkan berdasarkan status kepemilikan aset usaha.
• Kosmopolitan adalah sikap keterbukaan responden dalam menerima berbagai hal baru, hal ini dipengaruhi oleh: 1) frekuensi responden mengunjungi sumber

informasi, 2) frekuensi responden memanfaatkan media massa, selanjutnya kekosmopolitan digolongkan menjadi tiga kategori yakni rendah, sedang dan tinggi.
• Persepsi terhadap P2KP adalah pendapat/pengertian anggota kelompok terhadap Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), diukur dalam skala nominal: buruk, cukup baik dan baik terhadap mamfaat dari keberadaan P2KP.
• Ketersediaan modal adalah ketersediaan dan kemudahan mengakses modal dari program P2KP oleh anggota kelompok, diukur dalam skala nominal: rendah, sedang, dan tinggi dalam kersediaan modal.
• Intensitas pendampingan adalah banyaknya kegiatan-kegiatan yang bertujuan merubah perilaku (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) responden dalam usaha meningkatkan kedinamisan responden dalam pengembngan usaha yang dilakukan oleh tenaga pedamping kelompok, diukur dalam skala nominal: rendah,sedang, dan tinggi intensitas pedampingan dalam pengembangan usaha.
• Pendapatan anggota adalah selisih peneriaan dan pengeluaran (Rupiah/bulan) anggota yang bersumber dari usaha anggota pada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di bawah P2KP, berdasarkan sebaran pendapatan diukur dengan skala ordinal: rendah, sedang dan tinggi.
Pemimpin kelompok adalah individu yang ditunjuk/diserahi tanggung jawab oleh pihak P2KP maupun anggota kelompok sebagai ketua kelompok pada masyarakat miskin kota.

Peranan pemimpin kelompok adalah perangkat perilaku dari pemimpin kelompok yang diharapkan dilakukan melalui; (1) peranan pemimpin dalam memotivasi anggota dalam berusaha, (2) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak P2KP, (3)

peranan pemimpin dalam membantu mengembangkan ketrampilan anggota, (4) peranan pemimpin dalam menjaga kekompakan kelompok, (5) peranan pemimpin dalam mengembangkan wawasan anggota, (6) peranan pemimpin dalam membantu anggota memasarkan hasil produksi, (7) peranan pemimpin sebagai penghubung dengn pihak lain untuk kelancaran usaha, dan (8) peranan pemimpin dalam menjabarkan ide-ide pengembangan usaha. Diukur skala ordinal berdasarkan kemampuan pemimpin: rendah, sedang, dan tinggi dalam mewujudkan kedelapan peran tersebut.
Persepsi anggota terhadap peranan pemimpin kelompok adalah pendapat atau gambaran anggota kelompok terhadap usaha-usaha yang dilakukan oleh pemimpin kelompok dalam menjalankan perannya. Diukur skala nominal berdasarkan kemampuan pemimpin: rendah, sedang, dan tinggi.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Persepsi
Persepsi, menurut Rakhmat Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafslrkan pesan.
Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk- petunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorgani- sasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu. Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu.
Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera (Chaplin, 1989: 358)
Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard, 1991 : 209).
Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorga- nisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986: 54).

Pembentukan Persepsi dan Faktor-Faktor yang Menpengaruhi



Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Feigi (dalam Yusuf, 1991: 108) se- bagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan "interpretation", begitu juga berinteraksi dengan "closure". Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu. memegang peranan yang penting.
Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Rakhmat 1998: 55). Selanjutnya Rakhmat menjelaskan yang menentukan persepsl bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberi respon terhadap stimuli.
Persepsi meliputi juga kognisi (pengetahuan), yang mencakup penafsiran objek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan (Gibson, 1986 : 54). Selaras dengan pernyataan tersebut Krech, dkk. (dalam Sri Tjahjorini Sugiharto 2001: 19) mengemukakan bahwa persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama, yakni pengalaman masa lalu dan faktor pribadi. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan faktor pribadi adalah faktor insternal anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

Pengertian Peranan



Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan (Soekanto 1984: 237).
Analisis terhadap perilaku peranan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan : (1) ketentuan peranan, (2) gambaran peranan, dan (3) harapan peranan. Ketentuan peranan adalah adalah pernyataan formal dan terbuka tentang perilaku yang harus ditampilkan oleh seseorang dalam membawa perannya. Gambaran peranan adalah suatu gambaran tentang perilaku yang sacara aktual ditampilkan sesorang dalam membawakan perannya, sedangkan harapan peranan adalah harapan orang-orang terhadap perilaku yang ditampilkan seseorang dalam membawakan perannya (Berlo
1961: 153). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan peranan adalah perilaku pemimpin kelompok swadaya masyarakat membawa perannya dalam mengembangkan usaha anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam pemberdayaan masyarakat miskin kota.


Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan



Slamet (2002: 29) menyebutkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya dikemukakan oleh Slamet (2002: 30) bahwa kepemimpinan penting dalam kehidupan bersama dan kepemimpinan itu hanya melekat pada orang dan kepemimpinan itu harus mengena kepada orang yang dipimpinnya. Hal ini berarti harus diakui secara timbal balik, misalnya sasaran yang dipimpin harus mengakui bahwa orang tersebut adalah pemimpinnya.

Kepemimpinan adalah suatu upaya untuk mempengaruhi pengikut bukan dengan paksaan untuk memotivasi orang mencapai tujuan tertentu. Kemampuan mempengaruhi erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dari para anggotanya (Gibson 1986: 334)

Hubungan pemimpin dengan anggota berkaitan dengan derajat kualitas emosi dari hubungan tersebut, yang mencakup tingkat keakraban dan penerimaan anggota terhadap pemimpinnya. Semakin yakin dan percaya anggota kepada pemimpinnya, semakin efektif kelompok dalam mencapai tujuannya. Dalam hubungan pemimpin dengan anggotanya perlu diperhatikan antisipasi kepuasan anggota dan harus dipadukan dengan tujuan kelompok, motivasi anggota dipertahankan tinggi, kematangan anggota dalam pengambilan keputusan dan adanya tekat yang kuat dalam mencapai tujuan ( Slamet 2002: 32).

Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan: (1) pendayagunaan pengaruh, (2) hubungan antar manusia, (3) proses komunikasi dan (4) pencapaian suatu tujuan. Kepemimpinan tergantung pada kuatnya pengaruh yang diberi serta intensitas hubungan antara pemimpin dengan pengikut (Ginting 1999: 21)
Siangian S (1999: 208) ada tiga macam gaya kepemimpinan yang telah dikenal secara luas yaitu:
a. Demokratis, yaitu gaya kepemimpinan yang mengarah kepada pengambilan keputusan sebagai keputusan bersama dari seluruh anggota sistem sosial yang bersangkutan.
b. Otokrasi yaitu gaya kepemimpinan yang mengarah kepada pengambilan keputusan tergantung kepada pemimpinnya sendiri.
c. Laissez faire, yaitu gaya kepemimpinan yang menyerahkan pengambilan keputusan kepada masing-masing anggota sistem sosial itu sendiri.

Gaya kepemimpinan yang ada dalam suatu kelompok atau masyarakat tergantung pada situasi yang terdapat pada kelompok/ masyarakat tersebut. Dalam situasi yang sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan cenderung gaya kepemimpinannya bersifat otoriter. Pada situasi dimana hubungan antara anggota dengan pemimpinnya sedang-sedang saja atau anggota kelompok sangat dipentingkan maka gaya kepemimpinan lebih diarahkan pada gaya kepemimpinan demokratis.



Peranan Pemimpin kelompok


Seorang pemimpin harus dapat melakukan sesuatu bagi anggotanya sesuai dengan jenis kelompok yang dipimpinnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemimpin untuk dapat mendinamiskan kelompok yaitu: (1) mengidentifikasi dan dan menganalisis kelompok beserta tujuannya, (2) membangun struktur kelompok, (3) inisiatif, (4) usaha pencapaian tujuan, (5) mempermudah komunikasi dalam kelompok, (6) mempersatukan anggota kelompok, dan (6) mengimplementasikan filosofi. (Slamet
, 2002: 34).


Robinson dalam (Ginting 1999: 26-27) Para ahli mengemukakan bahwa peranan yang perlu ditampilkan pemimpin adalah: (1) mencetuskan ide atau sebagai seorang kepala, (2) memberi informasi, (3) sebagai seorang perencana, (4) memberi sugesti, (5) mengaktifkan anggota, (6) mengawasi kegiatan, (7) memberi semangat untuk mencapai tujuan, (8) sebagai katalisator, (9) mewakili kelompok, (10) memberi tanggung jawab, (11) menciptakan rasa aman dan (12) sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin kelompok, seseorang harus berperan mendorong anggota beraktivitas sambil memberi sugesti dan semangat agar tujuan dapat tercapai. Segala masukan yang datang dari luar, baik berupa ide atau gagasan, tekanan- tekanan, maupun berupa materi, semuanya harus diproses di bawah koordinasi

Kamis, 12 Mei 2011

kepemimpinan dalam kelompok

PENDAHULUAN


Latar Belakang penelitian


Kepemimpinan dalam kelompok menjadi hal yang sangat strategis untuk diperhatikan pada usaha pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan kelompok. Kepemimpinan kelompok merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi anggota kelompoknya untuk bertingkah laku seperti yang dikehendaki oleh pemimpin dalam mencapai tujuan kelompok secara bersama.
Dalam kelompok selalu ada pemimpin yang dapat menampilkan berbagai peranan, khususnya dalam mengerakkan anggota agar melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok. Alasan lain pentingnya kepemimpinan dalam kelompok adalah pada berbagai kondisi masyarakat desa, maupun masyarakat kota yang satu dengan lain sangat berbeda karakteristiknya serta cara mencapai tujuan dari kelompok itu sendiri.
Kelompok keswadayaan masyarakat adalah kelembagaan yang dirancang untuk membangun kembali kehidupan masyarakat mandiri yang mampu mengatasi kemiskinannya sendiri. Di samping itu kelompok keswadayaan masyarakat mengemban misi untuk menumbuhkan kembali ikatan-ikatan sosial dan menggalang solidaritas sosial sesama warga agar saling bekerja sama demi kebaikan bersama.
Pada kelompok masyarakat kota dicirikan dengan masyarakat yang sudah meninggalkan tradisi dan adat-istiadat, di sisi lain masyarakat miskin kota belum memiliki mobilitas yang tinggi dan masih terbatas akses terhadap berbagai kemajuan indutrialisasi, informasi dan tehnologi. Seiring dengan kondisi ini perubahan yang terjadi pada masyarakat kota berlangsung secara cepat bila dibandingkan dengan komunitas masyarakat desa. Peran dari stakeholder termasuk pemimpin kelompok yang ada dalam

masyarakat kota menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh semua pihak maupun agen pembaharu dalam pemberdayaan kelompok swadaya masyarakat miskin kota.
Pengamatan menunjukkan bahwa komunitas masyarakat miskin kota pada hakekatnya, berkeinginan untuk mengadakan perubahan-perubahan yang akhirnya dapat membawa perbaikan taraf hidup. Di sinilah peran agen dan pembaharu baik yang bersumber dari pemerintah seperti penyuluh maupun LSM untuk bisa menjembatani pencapaian tujuan dengan berbagai program pemberdayaan sesuai dengan sumberdaya alam, budaya dan tipe interaksi sosial dalam kelompok masyarakat tersebut.
Keberadaan kepemimpinan kelompok pada masyarakat miskin di perkotaan yang berbeda sejalan dengan karakteristik anggotanya, maka diperlukan kepemimpinan yang berbeda pula baik dalam hal pengetahuan, ketrampilan, pengalaman maupun karakteristik dari kelompok itu sendiri serta peranan dari kepemimpinan kelompok dalam usaha meningkatkan kedinamisan masyarakat miskin perkotaan yang akhirnya akan mempercepat proses pemberdayaan masyarakat miskin kota.


Masalah Penelitian

Dalam usaha mendinamiskan anggota kelompok keswadayaan masyarakat miskin perkotaan di mana peran pemimpin kelompok dianggap sangat penting, maka ada tuntutan yang harus dijawab: pemimpin yang bagaimana yang ideal bagi peningkatan kedinamisan masyarakat miskin perkotaan berdasarkan faktor internal dan ekternal dalam kelompok masyarakat miskin perkotaan. Berpijak dari masalah ini maka pertanyaan penelitian yang akan dikaji adalah sebagai berikut:

1. Apa faktor-faktor internal dan eksternal anggota kelompok swadaya masyarakat miskin kota?
2. Sejauh mana persepsi anggota tentang peran pemimpin kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan?
3. Bagaimana hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan persepsi anggota terhadap peran pemimpin kelompok pada masyarakat miskin perkotaan.


Tujuan Penelitian

Dari pertanyaan penelitian di atas, maka dapat dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal anggota kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan.
2) Mengetahui persepsi anggota terhadap peran pemimpin kelompok swadaya masyarakat miskin perkotaan
3) Menjelaskan hubungan antara faktor internal dan eksternal dengan pesepsi anggota terhadap peran pempimpin kelompok pada masyarakat miskin perkotaan.



Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan pengetahuan, dan para praktisi yang berkecimpung langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Lebih khusus diharapkan bermanfaat bagi:

1. Pemerintah dan pihak terkait

a) Memberikan masukan kepada pemerintah dalam usaha pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dengan tidak mengabaikan peranan pemimpin kelompok dalam pengambilan kebijakan pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan.
b) Memberikan kritikan dan saran tentang pergeseran peranan kepemimpinan kelompok pada berbagai kondisi masyarakat bagi pihak-pihak yang berkecimpung langsung sebagai agen pembaharu (pemerintah / LSM) dalam pemberdayaan masyarakat di masa yang akan datang.



2. Penguruan Tinggi

a) Memberikan sumbangan pemikiran yang dapat menambah khasanah keilmuan di bidang penyuluhan pembangunan tentang pentingnya kepemimpinan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat.
b) Memberikan kontribusi informasi awal bagi penelitian selanjutnya, dalam usaha mendapatkan model pemberdayaan kelompok yang ideal pada masyarakat miskin perkotaan melalui kajian peranan pemimpin kelompok.

Definisi Istilah

Definisi beberapa istilah dan menjadi peubah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Faktor internal dan eksternal kelompok adalah faktor-faktor yang ada dalam kelompok dan yang berasal dari luar kelompok terdiri atas:
• Umur adalah usia anggota kelompok swadaya masyarakat miskin kota yang dihitung sejak lahir sampai saat menjadi responden dalam penelitian ini, diukur dalam jumlah tahun.
• Pendidikan formal adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang berhasil dicapai responden, diukur dalam skala nominal: rendah, sedang dan tinggi yang dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan formal yang di capai.
• Pendidikan non formal adalah pendidikan (pelatihan, kursus, magang dan sebagainya) yang diterima responden diluar pendidikan formal yang dapat menunjang kegiatan usaha. diukur dalam skala nominal: pernah dan tidak pernah yang dikelompokkan berdasarkan pernah atau tidak responden mengikuti pendidikan non formal.
• Pengalaman berusaha yaitu lama anggota berusaha yang dilakukan oleh anggota kelompok sesuai dengan jenis usahanya, diukur dalam skala nominal dikelompokkan berdasarkan jumlah tahun bekerja sedikit, sedang dan banyak.
• Aset usaha adalah sarana dan prasarana yang dimiliki atau ada pada anggota kelompok yang dimanfaatkan untuk usaha yang ditekuninya, diukur dalam skala nominal; sedikit, cukup banyak dan banyak, dikelompokkan berdasarkan status kepemilikan aset usaha.
• Kosmopolitan adalah sikap keterbukaan responden dalam menerima berbagai hal baru, hal ini dipengaruhi oleh: 1) frekuensi responden mengunjungi sumber

informasi, 2) frekuensi responden memanfaatkan media massa, selanjutnya kekosmopolitan digolongkan menjadi tiga kategori yakni rendah, sedang dan tinggi.
• Persepsi terhadap P2KP adalah pendapat/pengertian anggota kelompok terhadap Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), diukur dalam skala nominal: buruk, cukup baik dan baik terhadap mamfaat dari keberadaan P2KP.
• Ketersediaan modal adalah ketersediaan dan kemudahan mengakses modal dari program P2KP oleh anggota kelompok, diukur dalam skala nominal: rendah, sedang, dan tinggi dalam kersediaan modal.
• Intensitas pendampingan adalah banyaknya kegiatan-kegiatan yang bertujuan merubah perilaku (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) responden dalam usaha meningkatkan kedinamisan responden dalam pengembngan usaha yang dilakukan oleh tenaga pedamping kelompok, diukur dalam skala nominal: rendah,sedang, dan tinggi intensitas pedampingan dalam pengembangan usaha.
• Pendapatan anggota adalah selisih peneriaan dan pengeluaran (Rupiah/bulan) anggota yang bersumber dari usaha anggota pada Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di bawah P2KP, berdasarkan sebaran pendapatan diukur dengan skala ordinal: rendah, sedang dan tinggi.
Pemimpin kelompok adalah individu yang ditunjuk/diserahi tanggung jawab oleh pihak P2KP maupun anggota kelompok sebagai ketua kelompok pada masyarakat miskin kota.

Peranan pemimpin kelompok adalah perangkat perilaku dari pemimpin kelompok yang diharapkan dilakukan melalui; (1) peranan pemimpin dalam memotivasi anggota dalam berusaha, (2) peranan pemimpin sebagai penghubung dengan pihak P2KP, (3)

peranan pemimpin dalam membantu mengembangkan ketrampilan anggota, (4) peranan pemimpin dalam menjaga kekompakan kelompok, (5) peranan pemimpin dalam mengembangkan wawasan anggota, (6) peranan pemimpin dalam membantu anggota memasarkan hasil produksi, (7) peranan pemimpin sebagai penghubung dengn pihak lain untuk kelancaran usaha, dan (8) peranan pemimpin dalam menjabarkan ide-ide pengembangan usaha. Diukur skala ordinal berdasarkan kemampuan pemimpin: rendah, sedang, dan tinggi dalam mewujudkan kedelapan peran tersebut.
Persepsi anggota terhadap peranan pemimpin kelompok adalah pendapat atau gambaran anggota kelompok terhadap usaha-usaha yang dilakukan oleh pemimpin kelompok dalam menjalankan perannya. Diukur skala nominal berdasarkan kemampuan pemimpin: rendah, sedang, dan tinggi.

TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Persepsi
Persepsi, menurut Rakhmat Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafslrkan pesan.
Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk- petunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorgani- sasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu. Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu.
Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera (Chaplin, 1989: 358)
Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard, 1991 : 209).
Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorga- nisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986: 54).

Pembentukan Persepsi dan Faktor-Faktor yang Menpengaruhi



Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Feigi (dalam Yusuf, 1991: 108) se- bagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan "interpretation", begitu juga berinteraksi dengan "closure". Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu. memegang peranan yang penting.
Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Rakhmat 1998: 55). Selanjutnya Rakhmat menjelaskan yang menentukan persepsl bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberi respon terhadap stimuli.
Persepsi meliputi juga kognisi (pengetahuan), yang mencakup penafsiran objek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan (Gibson, 1986 : 54). Selaras dengan pernyataan tersebut Krech, dkk. (dalam Sri Tjahjorini Sugiharto 2001: 19) mengemukakan bahwa persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama, yakni pengalaman masa lalu dan faktor pribadi. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan faktor pribadi adalah faktor insternal anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)

Pengertian Peranan



Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang yang melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan (Soekanto 1984: 237).
Analisis terhadap perilaku peranan dapat dilakukan melalui tiga pendekatan : (1) ketentuan peranan, (2) gambaran peranan, dan (3) harapan peranan. Ketentuan peranan adalah adalah pernyataan formal dan terbuka tentang perilaku yang harus ditampilkan oleh seseorang dalam membawa perannya. Gambaran peranan adalah suatu gambaran tentang perilaku yang sacara aktual ditampilkan sesorang dalam membawakan perannya, sedangkan harapan peranan adalah harapan orang-orang terhadap perilaku yang ditampilkan seseorang dalam membawakan perannya (Berlo
1961: 153). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan peranan adalah perilaku pemimpin kelompok swadaya masyarakat membawa perannya dalam mengembangkan usaha anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dalam pemberdayaan masyarakat miskin kota.


Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan



Slamet (2002: 29) menyebutkan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan, proses, atau fungsi pada umumnya untuk mempengaruhi orang-orang agar berbuat sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya dikemukakan oleh Slamet (2002: 30) bahwa kepemimpinan penting dalam kehidupan bersama dan kepemimpinan itu hanya melekat pada orang dan kepemimpinan itu harus mengena kepada orang yang dipimpinnya. Hal ini berarti harus diakui secara timbal balik, misalnya sasaran yang dipimpin harus mengakui bahwa orang tersebut adalah pemimpinnya.

Kepemimpinan adalah suatu upaya untuk mempengaruhi pengikut bukan dengan paksaan untuk memotivasi orang mencapai tujuan tertentu. Kemampuan mempengaruhi erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dari para anggotanya (Gibson 1986: 334)

Hubungan pemimpin dengan anggota berkaitan dengan derajat kualitas emosi dari hubungan tersebut, yang mencakup tingkat keakraban dan penerimaan anggota terhadap pemimpinnya. Semakin yakin dan percaya anggota kepada pemimpinnya, semakin efektif kelompok dalam mencapai tujuannya. Dalam hubungan pemimpin dengan anggotanya perlu diperhatikan antisipasi kepuasan anggota dan harus dipadukan dengan tujuan kelompok, motivasi anggota dipertahankan tinggi, kematangan anggota dalam pengambilan keputusan dan adanya tekat yang kuat dalam mencapai tujuan ( Slamet 2002: 32).

Faktor-faktor penting yang terdapat dalam pengertian kepemimpinan: (1) pendayagunaan pengaruh, (2) hubungan antar manusia, (3) proses komunikasi dan (4) pencapaian suatu tujuan. Kepemimpinan tergantung pada kuatnya pengaruh yang diberi serta intensitas hubungan antara pemimpin dengan pengikut (Ginting 1999: 21)
Siangian S (1999: 208) ada tiga macam gaya kepemimpinan yang telah dikenal secara luas yaitu:
a. Demokratis, yaitu gaya kepemimpinan yang mengarah kepada pengambilan keputusan sebagai keputusan bersama dari seluruh anggota sistem sosial yang bersangkutan.
b. Otokrasi yaitu gaya kepemimpinan yang mengarah kepada pengambilan keputusan tergantung kepada pemimpinnya sendiri.
c. Laissez faire, yaitu gaya kepemimpinan yang menyerahkan pengambilan keputusan kepada masing-masing anggota sistem sosial itu sendiri.

Gaya kepemimpinan yang ada dalam suatu kelompok atau masyarakat tergantung pada situasi yang terdapat pada kelompok/ masyarakat tersebut. Dalam situasi yang sangat menguntungkan atau sangat tidak menguntungkan cenderung gaya kepemimpinannya bersifat otoriter. Pada situasi dimana hubungan antara anggota dengan pemimpinnya sedang-sedang saja atau anggota kelompok sangat dipentingkan maka gaya kepemimpinan lebih diarahkan pada gaya kepemimpinan demokratis.



Peranan Pemimpin kelompok


Seorang pemimpin harus dapat melakukan sesuatu bagi anggotanya sesuai dengan jenis kelompok yang dipimpinnya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemimpin untuk dapat mendinamiskan kelompok yaitu: (1) mengidentifikasi dan dan menganalisis kelompok beserta tujuannya, (2) membangun struktur kelompok, (3) inisiatif, (4) usaha pencapaian tujuan, (5) mempermudah komunikasi dalam kelompok, (6) mempersatukan anggota kelompok, dan (6) mengimplementasikan filosofi. (Slamet
, 2002: 34).


Robinson dalam (Ginting 1999: 26-27) Para ahli mengemukakan bahwa peranan yang perlu ditampilkan pemimpin adalah: (1) mencetuskan ide atau sebagai seorang kepala, (2) memberi informasi, (3) sebagai seorang perencana, (4) memberi sugesti, (5) mengaktifkan anggota, (6) mengawasi kegiatan, (7) memberi semangat untuk mencapai tujuan, (8) sebagai katalisator, (9) mewakili kelompok, (10) memberi tanggung jawab, (11) menciptakan rasa aman dan (12) sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin kelompok, seseorang harus berperan mendorong anggota beraktivitas sambil memberi sugesti dan semangat agar tujuan dapat tercapai. Segala masukan yang datang dari luar, baik berupa ide atau gagasan, tekanan- tekanan, maupun berupa materi, semuanya harus diproses di bawah koordinasi

Rabu, 09 Maret 2011

Jenis Pemrosesan File

Jenis Pemrosesan File


Jenis File
File Dokumen
Kumpulan karakter/teks terformat

File Program
Berisi beberapa item software seperti
program sederhana atau kumpulan
bagian-bagian program

File Data
kumpulan / koleksi data yg digunakan
untuk pemrosesan data

Jenis File
File Input / Output
File yg akan diproses atau file yg
menyangga data terproses yang sedang
menunggu dioutputkan

File Kerja
File yg diciptakan selama tahap
intermediate (antara) dalam
pemrosesan

File Scracth
File yg tidak lagi diperlukan, yg mungkin
bisa ditindih atau dihapus

Elemen File Data
Karakter
Elemen terkecil dari suatu file
Dapat berupa abjad, angka atau karakter
khusus
Field
Item data, terbentuk dari sejumlah karakter
Misal : nama, alamat, tanggal, dll
Record
Terbentuk dari sejumlah field yg berkaitan
Misal : record pelanggan, record transaksi
penjualan

Aktifitas Pemrosesan
Updating
Contoh : mengupdate record buku besar dengan pesananpesanan
yang baru sehingga data yang lama diganti dgn data
baru

Referencing
Contoh : ingin mengetahui harga suatu barang dapat dilihat pada
file harga

File Maintenance
Contoh : perubahan harga,alamat yang menyebabkan file tsb
harus diperbaharui

File enquiry / interogation
Pemeriksaan thd file yang bermasalah untuk dapat diperbaiki


Hit Rate
Istilah yg digunakan untuk mendeskripsikan rate
(kecepatan) pemrosesan file master
berdasarkan record aktif.
Perbandingan antara record yg diproses dengan
total record dalam file master.
Contoh :
jika 1000 transaksi diproses setiap hari
menurut file master yg terdiri dari 10.000
record, maka hit rate-nya dikatakan sebesar
10%
Ukuran ‘aktifitas’ sebuah file.


Memproses File Teks

File teks bisa dianggap sebagai jenis khusus
file berangkai
Setiap baris (atau mungkin paragraf) yang
ada dalam file teks adalah record variable
length (yang panjangnya berubah-ubah) yang
berisi satu field karakter variable length1


Strategi Pemrosesan

Pemrosesan Transaksi – memproses
transaksi setiap kali ia terjadi
Pemrosesan Batch – mengumpulkan
transaksi bersama selama interval waktu
tertentu kemudian memproses seluruh batch
itu
Pemrosesan On-line
Data tidak akan basi pada waktu tiba di
komputer
File-file akan merefleksikan gambaran set
keadaan tertentu yang lebih up-to-date dan
lebih riil
Hasil pemrosesan dapat diperoleh lebih
Cepat

PERBEDAAN PEMROSESAN FILE SECARA ONLINE & OFFLLINE.
Pemrosesan file secara online adalah masuknya informasi ke basis data tertentu sesuai dengan instruksi klien dengan menggunakan layanan internet,sedangkan pemrosesan file secara offline adalah masuknya informasi ke basis data tertentu sesuai dengan instruksi klien tanpa menggunakan layanan internet.

Kamis, 03 Maret 2011

budaya organisasi


20090526-10. BUDAYA ORGANISASInnnnnn

Minggu, 20 Februari 2011

KELEMAHAN DAN KELEBIHAN FONT

Gautami ->termasuk ke dalam jenis font Sans Serif
Sans Serif: huruf yang tidak memiliki kait/serif pada ujung atas maupun bawahnya.
Jenis Font Sans-serif cenderung digunakan untuk hal-hal yang semi formal dan santai.
font Sans-serif lebih sederhana jika dibandingkan dengan Font Serif karena tidak
mengandung Serif. Kelebihan dari Font Sans-serif adalah sering digunakan untuk majalah-majalah dan layar
komputer sedangkan Kekurangan dari font ini adalah tidak cocok untuk desain grafis


Gungsuh -> Kelebihan font gungsuh :
>> Mendukung penuh penulisan huruf korea.
>> Membuat teks lebih mudah dibaca dengan cara memberi spasi secara proposional
(Proportionally spaced).
>> Setiap garis tulisan memberikan kesan kesan yang lebih serius.
>> Memiliki detail-detail penulisan yang cukup mudah dibaca, terlebih jika dipakai
dengan volume huruf yang cukup besar.

Kelemahan :
>> volume teks dari huruf ini cukup besar. Karena itu spasi baris menjadi besar
sehingga pengetikan akan cenderung boros page untuk suatu ukuran huruf standar
dibanding times new roman dan sejenisnya.
>> Penggunaan huruf ini menjadi tidak umum untuk kita gunakan karena cukup
menyulitkan bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengan huruf-furuf alphabet.

Gungsuhche
Jenis font ini sama persis kelemahan dan kelebihannya dengan font gungsuh karena font
ini masih sejenis dengan font Gungsuh

Sabtu, 04 Desember 2010

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Motivasi Siswa SMA dalam Mengerjakan Pekerjaan Rumah

Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam mengerjakan PR dan cara-cara meningkatkan motivasi tersebut. Informan dalam penelitian ini adalah 6 orang siswa SMA dan 3 orang guru pengajarnya. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode FGD (Focus Group Discussion) dan wawancara individual, serta dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi dalam mengerjakan PR dapat dikelompokkan menjadi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi tindak lanjut guru dalam pemberian PR, pemberian nilai, jenis, beban dan waktu pemberian serta tingkat kesulitan PR, bahan atau sumber untuk mengerjakan PR, cara mengajar dan karakteristik guru, pengaruh teman, dan juga dukungan keluarga. Faktor internal meliputi manfaat yang dirasakan, minat terhadap pelajaran, serta kondisi fisik. Beberapa implikasi cara untuk meningkatkan motivasi pengerjaan PR adalah memperhatikan tindak lanjut dalam pemberian PR, perancangan PR yang menjawab kebutuhan, pemberian pengetahuan/informasi dasar yang memungkinkan untuk berekplorasi, peningkatan kemampuan guru dalam mengajar dan menjalin relasi interpersonal.
Kata kunci: motivasi mengerjakan PR, pekerjaan rumah (PR), siswa SMA, dan motivasi belajar
BAB I
PENDAHULUAN
Di sekolah terdapat proses belajar mengajar yang merupakan interaksi antara guru dan siswa. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada proses belajar yang dialami siswa itu sendiri sebagai anak didik. Agar siswa berhasil, siswa harus mampu memahami materi pelajaran yang nantinya diharapkan siswa dapat menyelesaikan ujian dengan baik sebagai hasil evaluasi belajar.
Dalam aktivitas belajar salah satu hal yang dilakukan guru selain menjelaskan materi adalah memberikan tugas. Tugas tersebut meliputi menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, mengerjakan pekerjaan rumah (PR), ulangan harian, ulangan umum, dan juga ujian (Slameto, 1988). Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi.
Hal yang menjadi perhatian peneliti di sini adalah pekerjaan rumah (PR). Menurut Cooper (dalam Novianti, 2003), PR merupakan tugas yang diberikan pada pelajar oleh guru sekolah untuk dikerjakan di luar sekolah. Alasan pemberian PR adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi-materi yang telah diajarkan oleh guru. Lindsay dan Cooper (dalam Novianti, 2003) menambahkan pula bahwa PR adalah alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan. PR dipercaya menjadi arti penting bagi kedisiplinan ingatan murid. Ingatan tidak hanya digunakan sebagai perolehan pengetahuan saja tetapi juga sebagai latihan mental individu. Oleh karena itu PR dianggap sebagai strategi penting dalam pengajaran.
Berkaitan dengan hal tersebut peneliti melakukan studi awal melalui angket kepada siswa-siswa dari setiap jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, SMA di Surabaya. Dari survei tersebut peneliti memperoleh data tentang pandangan siswa tentang PR, cara mereka mengerjakan PR, serta faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam menyelesaikan PR-nya. Hasil dari studi awal terhadap 30 anak SD menunjukkan bahwa seluruh siswa (100%) memiliki pandangan yang positif terhadap PR. Mereka menganggap bahwa PR dapat menambah wawasan atau pengetahuan dan melatih siswa. Ketika PR tersebut diberikan sebagai tugas yang harus dikerjakan, mereka berusaha mengerjakan. Jika mereka merasa kesulitan, mereka akan bertanya kepada orang tua atau saudara.
Studi awal terhadap 10 siswa SMP, 70% menyatakan bahwa PR perlu diberikan dengan alasan untuk melatih siswanya dalam memahami materi yang sudah diajarkan, sedangkan sisanya menyatakan bahwa PR tidak perlu diberikan dengan alasan bahwa siswa sudah cukup lelah di sekolah sehingga waktu di rumah adalah waktu untuk beristirahat. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa 90 % siswa berusaha menyelesaikan PR tersebut. Para siswa bertanya kepada orang tua, saudara, dan guru les mereka ketika mereka merasa kesulitan mengerjakan PR.
Hasil studi awal pada 42 siswa SMA menunjukkan 72% siswa menyatakan PR penting untuk melatih siswa, supaya siswa lebih memahami materi yang diajarkan, dan agar siswa belajar. Sisanya menyatakan bahwa PR itu tidak perlu diberikan karena dianggap membebani siswa. Hasil juga menunjukkan bahwa hampir separoh, yaitu 43% dari 42 siswa mengerjakan PR di sekolah dengan melihat hasil kerja teman yang lain. 83% siswa menyatakan dirinya sering menunda mengerjakan tugas, dengan alasan malas dan banyaknya tugas yang lain.
Studi awal di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan siswa, semakin banyak yang tidak mengerjakan PR. Hal tersebut menjadikan tujuan guru memberikan tugas tersebut tidak tercapai karena kebanyakan mereka yang mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah itu mencontek dari teman yang sudah mengerjakan. Pada siswa SMA banyak yang menganggap PR itu penting, namun kenyataannya mereka tidak menjadikan PR itu sebagaimana mestinya. Berdasarkan uraian tersebut, tampak bahwa PR yang diberikan tidak dapat mencapai tujuannya. Padahal jika dilihat dari tujuan pemberian PR itu sendiri adalah supaya siswa berlatih, mengolah kembali materi pelajaran, menyusun jalan pikiran secara berantai, belajar membagi waktunya dengan baik, belajar teknik-teknik studi yang efisien dan efektif (Winkel, 2005). Beranjak dari fenomena diatas peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Adanya informasi mengenai faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi para guru mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk membuat PR menjadi lebih efektif, dan membangkitkan motivasi siswa dalam mengerjakan PR.


2. Kajian literatur
Brink (dalam Novianti, 2003) menyatakan bahwa PR dapat digunakan sebagai alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan. PR dapat berguna bagi kedisiplinan ingatan murid. PR merupakan suatu latihan mental yang baik, karena melatih ingatan dan pengetahuan yang diperoleh dari sekolah untuk dipelajari ulang di rumah. Oleh karena itu, PR dianggap sebagai strategi penting dalam suatu proses belajar.
PR merupakan salah satu bagian dari evaluasi yang dilakukan oleh pengajar terhadap proses belajar-mengajar. Evaluasi berarti penentuan sampai seberapa jauh sesuatu berharga, bermutu atau bernilai. Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan terhadap proses belajar-mengajar mengandung penilaian terhadap hasil belajar atau proses belajar itu, sampai seberapa jauh keduanya dapat dinilai baik (Winkel, 2005).
Nasution (2005) membagi pekerjaan rumah ke dalam beberapa bentuk. Bentuk pertama adalah pekerjaan rumah sebagai belajar sendiri. Contoh-contoh dari pekerjaan rumah bentuk pertama adalah mempelajari satu bab dari buku pelajaran, menterjemahkan bahasa asing, membaca dan menghafal sajak. Pekerjaan rumah ini efektif jika bahan tersebut dapat dipelajari sendiri oleh murid.
Bentuk kedua adalah pekerjaan rumah sebagai latihan. Contohnya adalah membuat soal matematika atau fisika yang sudah dipelajari aturan dan prinsip-prinsipnya. Syaratnya agar efektif ialah bahwa semua siswa telah memahami aturan itu dan telah sanggup menerapkannya. Bila siswa-siswa tidak atau belum memiliki pengetahuan dan kemampuan itu, maka siswa akan kandas dan tak sanggup membuat pekerjaan rumah itu. Siswa merasa frustasi dan merasa jengkel terhadap bidang studi itu atau menyalinnya saja dari teman sekelas. Pekerjaan rumah serupa itu sudah jelas tidak ada bahkan negatif hasilnya.
Bentuk ketiga adalah pekerjaan rumah yang berbentuk proyek. Pada pekerjaan rumah yang berupa proyek biasanya siswa ditugaskan untuk mengumpulkan sejumlah bahan berhubungan dengan suatu masalah untuk menyusun laporan, membuat percobaan, atau demonstrasi. Efektif tidaknya pekerjaan rumah ini bergantung antara lain pada sifat pekerjaan itu. Jika pekerjaan itu terlalu sulit, maka tidak akan efektif. Jadi masalah yang dihadapkan kepada anak harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan kemampuan anak agar efektif.
Pada umumnya pekerjaan rumah dipandang sebagai unsur yang penting dalam pengajaran. Hasil belajar murid banyak ditentukan hingga manakah ia melakukan pekerjaan rumahnya dengan baik dan jujur. Fungsi pekerjaan rumah yang terpenting ialah mendorong anak belajar sendiri.Agar pekerjaan rumah menjadi efektif, Nasution (2005) menyarankan agar pekerjaan rumah yang diberikan harus diintegrasikan dengan apa yang telah dipelajari anak sebelumnya. Pekerjaan rumah harus didasarkan atas apa yang telah dikuasai anak. Di samping itu pekerjaan rumah harus didasarkan pada pengetahuan dan ketrampilan yang telah dikuasai oleh semua murid. Pengajaran berprograma sangat efektif sebagai pekerjaan rumah.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat dampak positif pekerjaan rumah terhadap siswa baik secara akademis maupun tidak (misalnya Eren & Henderson, 2006; Cooper, Robinson and Patall, 2006; Corno and Xu, 2004; Johnson and Pontius, 1989; Warton, 2001 (dalam The Centre for Public Education, 2007). Penelitian terdahulu juga banyak ditujukan pada upaya untuk melihat kelompok siswa yang paling mendapatkan manfaat dari pengerjaan PR (misalnya Cooper 1989; Goldmen and Varenne 1984; Hoover-Dempsey et al., 2001; Keith and Benson, 1992; Leone and Richards 1989; Muhlenbruck et al. 2000; McDermott, Scott-Jones 1984, (dalam Centre for Public Education, 2007). Akan tetapi masih sangat minim penelitian yang menggali secara komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR, lebih-lebih yang dilakukan dalam konteks di Indonesia. Kogan dan Rueda (1997) meneliti sikap terhadap PR pada siswa kelompok minoritas di California dengan membandingkan PR yang berorientasikan siswa (student-centered homework) dan PR yang berorientasikan pada instruksi guru (teacher-directed homework assignments). Hasil menunjukkan bahwa lebih banyak siswa mengerjakan PR yang berorientasikan siswa (student-centered homework) dibandingkan PR yang berorientasikan instruksi guru (teacher-directed homework). Novianti (2003) melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara minat belajar dengan sikap terhadap pekerjaan rumah pada siswa kelas V SD. Namun penelitian-penelitian ini tidak berhasil mengungkap secara menyeluruh faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya motivasi pengerjaan PR pada siswa SMA. Karena itulah perlu sekali dilakukan penelitian di konteks Indonesia untuk menggali secara menyeluruh faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi dalam mengerjakan PR.
3. Metode
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan studi deskriptif. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang siswa SMA X Surabaya dan 3 orang guru pengajarnya. Pemilihan informan penelitian ini berdasarkan pengambilan sampel kasus tipikal, yaitu sampel yang dianggap dapat mewakili kelompok normal dari fenomena yang sedang diteliti (Poerwandari, 2001).
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur, dimana dalam melakukan wawancara peneliti menggunakan pedoman wawancara mengenai aspek-aspek yang akan dibahas atau dipertanyakan, namun tidak membatasi jika ada pertanyaan di luar pedoman sepanjang itu relevan dengan topik penelitian. Wawancara kepada siswa dilakukan secara kelompok (Focus Group Discussion) dan individual. Kepada guru-guru diberikan angket terbuka, karena menolak untuk diwawancara.
Analisis dilakukan secara tematik dengan mengikuti langkah-langkah analisis yang disarankan oleh Strauss dan Corbin (1998). Untuk meningkatkan kredibilitas dalam penelitian ini, maka peneliti melakukan triangulasi metode dan data (Bryman, 2001).

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari keenam informan siswa SMA, ada banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA terhadap PR. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa SMA dalam pengerjaan PR dapat dikelompokkan ke dalam faktor ekternal dan internal.
A. Faktor Eksternal
1.1. Tindak lanjut guru dalam pemberian PR
Faktor yang mempengaruhi rendahnya motivasi siswa dalam mengerjakan PR adalah tindak lanjut dari pemberian PR. Seluruh siswa dalam penelitian ini merasakan bahwa guru yang kurang memperhatikan tindak lanjut dari pemberian PR menjadikan mereka kurang termotivasi mengerjakan PR. Sekalipun para guru menyatakan bahwa mereka membahas, mencocokkan dan memberikan nilai pada PR siswa, namun sebagian siswa menyatakan bahwa guru biasanya hanya membahas soal-soal PR yang dianggapnya sulit atau hanya menandatangi PR yang sudah mereka kerjakan tanpa membahasnya. Menurut mereka soal yang sulit bagi seseorang belum tentu sulit bagi yang lain, karenanya mereka ingin sekali soal-soal PR dapat dibahas semuanya, sehingga mereka dapat mengetahui benar-tidaknya yang telah mereka kerjakan.
“kadang-kadang ada yang langsung guru itu ga bahas semuanya cuman yang sulit yang mana yang dibahas gitu. … pengennya semua dibahas soalnya kalo kita cuman yang sulit aja yang dibahas nah yang lainnya kan ga tau itu betul apa salah jawabannya”(Wawancara Individu Lia, No: 4)
“ .. tapi kalo cuman dikumpulin trus ditandatangani kita ya jadi males ngerjain PR.”(Wawancara Individu Hendy, No:5)
Guru sebagai informan di sini memang menyatakan bahwa ia melakukan tindak lanjut terhadap PR yang diberikan. Namum tampaknya tindak lanjut belum diberikan secara maksimal sehingga hal tersebut mengurangi motivasi siswa dalam mengerjakan PR.
Apa yang disampaikan oleh para siswa selaku informan sejalan dengan yang dikemukakan oleh Rusyan et al. (1989), bahwa peserta didik yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan itu akan menimbulkan kepuasan dan akan mendorong belajar yang lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustasi atau dapat pula menjadi cambuk. Ketika siswa tidak tahu hasil dari mengerjakan PR maka ia tidak akan termotivasi untuk mengerjakan PR. Demikian juga menurut Nasution (2005), bahwa tidak ada metode mengajar yang menjamin keberhasilan. Keberhasilan baru diketahui bila ada penilaian yang dapat menunjukkan kesalahan dan kekurangan sebagai umpan balik (feedback) untuk diperbaiki. Mengabaikan feedback adalah meniadakan salah satu aspek yang penting dalam proses belajar.
1.2. Pemberian nilai
Faktor pemberian nilai juga ikut mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Menurut para siswa, tidak adanya pemberian nilai untuk apa yang sudah mereka kerjakan akan menurunkan motivasi mereka dalam mengerjakan PR.
“ya..yang ga dikumpulin, ga dibahas dan dikasih nilai. Wes…cuma ditandatangani..yah cuma ditandatangani thok..kita ga tahu nilainya apa ..i know..jadi kerjaan mikir-mikir, susah-susah lho..ya ga diajarin..akhirnya ya kita males..ya udah, (Wawancara FGD Ana, No: 61)
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Woolfolk (1993), bahwa siswa perlu mendapatkan penghargaan dan reward (hadiah) atas apa yang telah mereka kerjakan. Reward yang diberikan bisa berupa nilai, hadiah atau sekedar pujian, dengan demikian siswa akan termotivasi untuk mengerjakan PR.
1.3. Jenis PR
Jenis PR yang diberikan oleh guru juga mempengaruhi motivasi siswa untuk mengerjakannya. Guru mengatakan bahwa jenis PR yang diberikan berbeda-beda untuk tiap mata pelajaran. Semua tergantung dari materi pelajarannya. Tiap guru memiliki cara yang berbeda pula untuk membuat siswa tertarik dengan PR yang diberikan.
Para siswa menyatakan bahwa selama ini sekolah banyak menggunakan BTS sebagai panduan siswa mengerjakan tugas. Dalam BTS terdapat soal-soal latihan dari materi pelajaran yang diajarkan. Pada kenyataannya siswa lebih tertarik mengerjakan PR dari hasil observasi, praktikum atau mencari artikel-artikel dari koran dan tidak hanya dari BTS (Buku Tugas Siswa).
“o..kalo aku sendiri sih..kalo kasih PR ga harus ngeteks gitu kaya di BTS atau ditulis dipapan gitu ga..ya gurunya supaya lebih kreatif lah dengan cara apa ya..ngasih tugas praktek, observasi gitu ya..jadi anak akan jadi lebih kreatif gitu lho..ga harus ngeteks kaya dibuku terus..”
“ya..pengaruh banget, kalo meneliti-meneliti gitu kan seru, kaya mainan gitu lho jadi seneng ngerjainnya.kelapangan.”
Sejalan dengan hal tersebut Woolfolk (1993) mengatakan bahwa tugas harus dapat membangkitkan ketertarikan dan rasa ingin tahu bagi siswa. Ketika tugas tersebut tidak menarik bagi siswa maka ia tidak akan termotivasi untuk mengerjakan PR-nya.


1.4. Beban dan waktu pemberian PR
Banyaknya PR yang diberikan dan waktu pemberian PR juga mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Salah satu yang dirasa siswa menjadi penyebab mereka tidak mengerjakan PR adalah banyak PR yang harus mereka kerjakan dalam waktu yang bersamaan. Siswa merasa bahwa pada saat-saat tertentu mereka mendapat PR dari berbagai mata pelajaran secara bersamaan. Hal ini menyulitkan mereka dalam mengerjakan PR dengan baik.
“iya terlalu banyak, kadang ..kalo PRnya sedikit sih ga papa.tapi kenyataan sendiri PRnya banyak..ya apa ya..kaya..jadi pelajaran ini-pelajaran ini..langsung jadi PR satu hari.”
Kondisi ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara para guru pengajar, sehingga pemberian tugas dapat dijadwalkan dengan lebih baik. Di samping itu, hal ini juga menunjukkan perlunya usaha integratif dari para guru, sehingga satu tugas dapat mencapai sasaran pengajaran dari berbagai mata pelajaran.
Waktu pemberian PR menurut guru juga ikut mempengaruhi motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Seluruh guru dalam penelitian ini mengatakan bahwa mereka memberikan PR ketika materi pelajaran selesai diberikan. Namun, banyak siswa dalam penelitian ini mengeluhkan bahwa sekarang ini banyak tugas yang diberikan oleh guru sebelum materi pelajaran diberikan, sehingga hal tersebut menjadi hambatan bagi siswa untuk mengerjakannya. Siswa merasa kesulitan karena tidak tahu materi yang diajarkan.
kadang-kadang gurunya itu ada yang ga nerangin trus ngasihin PR gitu ya … kita kan ndak tahu gimana caranya nyelesaikannya kita kan ga tahu moro-moro ujuk-ujuk ‘ini nanti kerjakan ini, besok baru diterangin’
Meskipun siswa menyadari bahwa kurikulum yang digunakan dalam sekolah adalah KBK dimana siswa dituntut untuk lebih aktif, namun kebanyakan siswa merasa malas mengerjakan PR karena tidak mengerti materi apa yang digunakan untuk mengerjakan PR. Siswa ingin guru menerangkan terlebih dahulu materi pelajaran dengan baik sehingga ketika guru memberikan PR siswa tahu bagaimana harus mengerjakan.
Nasution (2005) menyatakan bahwa tugas guru yang utama sekarang ini bukan lagi menyampaikan pengetahuan, melainkan memupuk pengertian, membimbing mereka untuk belajar sendiri. Namun demikian hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya

Pembudidayaan Jamur Kayu sebagai Usaha Pemanfaatan Limbah Kayu (Serbuk Gergaji)

II. LATAR BELAKANG

Mahasiswa adalah generasi pelopor berbagai macam kreativitas, melalui ilmu yang telah diperolehnya, pengalaman, maupun ide yang tidak disengaja seharusnya mampu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. Saat ini, di Indonesia, lulusan universitas atau institusi pendidikan relatif susah untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, di Amerika setiap harinya lahir seorang entrepreneur yang sangat berperan penting dalam kemajuan perekonomiannya. Oleh karena itu, seorang lulusan sarjana bukan saatnya lagi mencari pekerjaan, akan tetapi sebagai wirausaha yang dapat menghasilkan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Salah satu jenis usaha yang ingin dikembangkan berasal dari sektor pertanian.
Hal yang berkaitan dengan hasil hutan adalah kegiatan pengolahan hasil hutan, antara lain berupa industri penggergajian kayu. Dalam bidang industri pengolahan kayu, maka industri penggergajian kayu merupakan pengolahan kayu bulat mentah untuk dijadikan barang setengah jadi atau bahan baku, yang selanjutnya diolah oleh perusahaan industri kayu hilir menjadi barang jadi.
Konsumen kayu gergajian dalam negeri yang terbesar adalah sektor perumahan dan sektor kostruksi. Kebutuhan manusia akan kayu sebagai bahan bangunan baik untuk keperluan konstruksi, dekorasi, maupun furniture terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan kayu untuk industri perkayuan di Indonesia diperkirakan sebesar 70 juta m3 per tahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 14,2 % per tahun sedangkan produksi kayu bulat diperkirakan hanya sebesar 25 juta m3 per tahun, dengan demikian terjadi defisit sebesar 45 juta m3 (Priyono,2001). Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya daya dukung hutan sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan kayu.
Karena sifat dan karakteristiknya yang unik, kayu merupakan bahan yang paling banyak digunakan untuk keperluan konstruksi. Kebutuhan kayu yang terus meningkat dan potensi hutan yang terus berkurang menuntut penggunaan kayu secara efisien dan bijaksana, antara lain dengan memanfaatkan limbah berupa serbuk kayu menjadi produk yang bermanfaat.
Limbah kayu, yang banyak dijumpai di tempat penggergajian atau perusahaan mebel, biasanya hanya dijadikan bahan bakar. Atau kadang malah dibuang begitu saja. Saat ini limbah serbuk gergaji akan digunakan untuk membudidayakan tanaman jamur.
Jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan warna kayu menjadi berubah dan kemudian menyebabkan pembusukan apabila kuantitasnya sudah berlebihan.
Jamur kayu merupakan salah satu jenis jamur yang tumbuh pada media kayu. Jamur ini biasa tumbuh pada kayu lapuk di kebun, hutan-hutan, bahkan di belakang rumah. Jamur kayu biasanya banyak berkembang pada musim hujan. Jenis jamur kayu memiliki kandungan gizi yang tinggi. Dalam jamur terkandung protein yang sangat penting untuk tubuh. Jamur kayu merupakan tanaman obat yang bermanfaat dan berkhasiat sebagai obat tradisional yang dapat diramu sendiri.
Jenis-jenis janur yang sering dibudidayakan, yaitu Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), di Jepang dikenal dengan nama Shimeji. Jenis jamur tiram putih tumbuh subur pada temperatur 24’C-26’C. Kelembaban udara yang diperlukan sekitar 90%.
Jamur payung cokelat (Lentinus edodes), di Jepang dikenal dengan nama Shiitake. Di Eropa dikenal juga dengan nama Dry Mushroom. Jamur ini tumbuh subur pada temperature 19’C-22’C. Kelembaban udara yang diperlukan untuk jenis jamur ini sekitar 95%.
Jamur payung merah. Dikenal dengan nama Jepang Nameko. Jamur Kuping Hitam ( Lember ), yang memiliki nama ilmiah Auricularia polytricha. Jamur kuping ini dikenal dengan nama Jepang Arage kikurage. Persyaratan lingkungan tumbuh untuk jamur ini pada temperature 24’c-28’c dengan kelembaban udara sekitar 90%. Jamur kuping merah, dengan nama Jepang Kikurage dan jamur kuping putih, dengan nama Jepang Sirokikurage

Jamur tiram termasuk jamur kayu yang telah banyak dibudidayakan. Tudungnya berwarna hitam lembayung sampai kecoklatan. Bentuknya menyerupai kulit kerang dengan diameter 6-14 cm. Permukaan tudung licin dan mengkilap. Bilah berwarna putih krem atau putih gading. Susunan bilahnya agak rapat. Sewaktu mudah bilahnya berwarna putih, makin tua menjadi krem kekuningan.
Seperti yang kita ketahui, jamur tiram sangat laku keras di pasaran. Banyak yang mengkonsumsi jenis jamur ini baik sebagai obat-obatan maupun bahan panganan. Pembudidayaan jamur ini sangat potensial untuk meningkatkan produksi pertanian dan sebagai industri rumah tangga.
Peluang usahanyapun tinggi mengingat kebutuhannya bagi masyarakat. Ditambah lagi kandungan protein dan vitamin yang baik bagi kesehatan. PKMK ini mengajarkan mahasiswa untuk belajar berfikir kreatif dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, pembudidayaan jamur kayu jenis tiram putih ini diangkat menjadi salah satu industri rumah tangga sektor pertanian untuk memperkenalkan produk kehutanan non kayu kepada masyarakat luas dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin serta bertujuan untuk mengolah kembali limbah serbuk gergaji agar menghasilkan nilai guna.




III. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka pengusul merumuskan beberapa masalah, antara lain: bagaimana memperkenalkan Jamur tiram sebagai salah satu bahan pangan yang bergizi, cara pengolahan Jamur Tiram menjadi makanan yang bermanfaat dan khasiat yang baik, teknik pelaksanaan usaha yang akan dijalankan, perhitungan hasil usaha, serta cara pengembangan usaha budidaya Jamur Tiram yang akan datang sehingga produk ini layak untuk dikembangkan lebih baik lagi.
IV. TUJUAN
Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang kewirausahaan ini, pengusul dapat menghasilkan produk bahan pangan berbahan dasar Jamur Tiram serta menjadikan kegiatan tersebut menjadi usaha mandiri yang berkelanjutan dan mampu bersaing dengan produk lain. Selain itu, Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan dapat menjadi wadah pembelajaran untuk berkreasi dan berwirausaha.
V. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Program ini diharapkan dapat mengembangkan usaha Jamur Tiram di lingkungan kampus bahkan di lingkungan yang lebih luas lagi. Melalui kegiatan ini pula mahasiswa dapat belajar berwirausaha sehingga mengurangi ketergantungan terhadap orang tua. Lebih jauh lagi, pengusul berharap, usaha Jamur Tiram ini dapat menjadi lapangan pekerjaan baru bagi mahasiswa lain maupun masyarakat sekitar kampus.
VI. KEGUNAAN
Mahasiswa lingkungan kampus dan masyarakat sekitar kampus bahkan dapat lebih luas lagi dengan mudah mendapatkan bahan pangan yang bergizi dan sehat, berbahan dasar unik serta memiliki aneka rasa. Dari aspek ekonomi, bahan pangan ini dapat terjangkau oleh segala kalangan masyarakat dan merupakan peluang usaha yang menjanjikan.
VII. GAMBARAN UMUM USAHA
Pada umumnya orang-orang mengkonsumsi jamur bukan hanya lantaran rasanya yang memang lezat, tetapi juga karena ada alasan lain, yakni manfaat dan khasiat yang terkandung di dalamnya. Dan faktor khasiat dan manfaat inilah yang menjadi prioritas konsumen jamur. Tujuannya tentu saja demi kesehatan tubuh atau hal lain yang berkaitan dengan vitalitas. Tidaklah mengherankan jika berbagai jenis jamur kini menjadi bagian dari menu favorit di sejumlah rumah makan.
Dari hasil penelitian, jamur yang biasa kita makan rata-rata mengandung 14-35 persen protein. Dibandingkan dengan beras (7,38 persen) dan gandum (13,2 persen), jamur berkadar protein lebih tinggi. Asam amino esensial yang terdapat pada jamur ada sembilan jenis dari total 20 jenis yang kita kenal yaitu lysin, methionin, tryphtofan, theonin, valin, leusin, isoleusin, histidin, dan fenilalanin. Sedangkan kalori yang dikandung jamur adalah 100kj/100 gram dengan 72 persen lemak tak jenuh. Jamur juga kaya akan vitamin, di antaranya B1 (thiamin), B2 (riboflavin), niasin, dan biotin. Untuk mineral, jamur mengandung K, P, Fe, Ca, Na, Mg, Mn, Zn, dan Cu. Serat jamur sangat baik untuk pencernaan. Kandungan seratnya mencapai 7,4- 24,6 persen sehingga cocok untuk para pelaku diet. Menurut hasil riset di Massachusetts University, AS, riboflavin, asam nicotinat, panthotenat, dan biotin (Vit B) yang ada pada jamur masih terpelihara dengan baik meskipun jamur telah dimasak. "Pleurotus ostreatus" Senada dengan penelitian tersebut, secara spesifik, Beta Glucan Health Center mengatakan bahwa jamur tiram yang bernama latin Pleurotus ostreatus atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai oyster mushroom mengandung senyawa pleuran yang berkhasiat sebagai antitumor, menurunkan kolesterol, serta bertindak sebagai antioksidan.
Jamur tiram, di Jepang dikenal dengan sebutan hiratake, mengandung protein 19-30 persen, karbohidrat 50-60 persen, asam amino, vitamin B1, B2, B3, B5, B7, C, mineral Ca, Fe, Mg, K, P, S, dan Zn. Menurut penelitian, kandungan logam yang ada pada jamur tiram masih jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan Fruit Product Order and Prevention of Food Adulteration Act tahun 1954, sehingga aman untuk dikonsumsi. Dari penelitian yang dilakukan Ujagar Group (India) juga dikatakan bahwa jamur tiram memiliki nilai nutrisi yang sangat bagus, di mana 100% sayuran mengandung protein tinggi, kaya vitamin, mineral, rendah karbohidrat, lemak, dan kalori. Selain itu, bagus untuk liver, pasien diabetes, menurunkan berat badan, seratnya membantu pencernaan, antiviral (antivirus), dan antikanker. Nilai tambah lainnya, jamur tiram mudah dimasak dan dicerna dengan rasa yang enak pula.
Dari penelitian lain yang dilakukan Departemen Sains Kementerian Industri Thailand, didapat hasil tentang jamur tiram yang mengandung protein 5,94 persen, karbohidrat 50,59%, serat 1,56 persen, lemak 0,17 persen. Untuk tiap 100 gram jamur tiram segar mengandung 45,65 kj kalori; 8,9mg kalsium; 1,9 mg besi; 17,0 mg fosfor; 0,15 mg vitamin B1; 0,75mg Vit B2; dan 12,40 mg Vitamin C. Selain itu, jamur tiram juga mengandung asam folat yang cukup tinggi dan terbukti ampuh menyembuhkan anemia.
Kalau kita bandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya hanya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, sedangkan karbohidratnya 0,0 gram, dan vitamin C nya 0,0 gram, kandungan gizi jamur tiram masih lebih komplet tentunya. Sehingga tidak salah apabila dikatakan jamur tiram maupun jamur pada umumnya merupakan bahan pangan masa depan.
Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Bobek (1999) dari Research Institute of Nutrition Bratislava tentang Natural Product with Hypolipemic and Antioxidant Effect, telah dilakukan studi pada sebuah group dengan 57 laki-laki : perempuan = 1:1, usia setengah umur dengan kasus hyperlipoproteinemia. Selama 1 bulan mereka mengonsumsi 10 gram jamur tiram secara teratur. Kesimpulannya, secara statistik sangat menjanjikan yakni kolesterol dan serum turun 12,6 % dan trigliserol turun 27,2 %. Jamur tiram dikatakan mempunyai efek antioksidan dengan turunnya peroksidasi di dalam eritrosit.
Sementara Sejak tahun 1960, para peneliti jamur telah melakukan riset berbagai khasiat jamur. Beberapa tahun terakhir diketahui adanya polisakarida, khususnya Beta-D-glucansyang mempunyai efek positif sebagai antitumor, anti kanker, anti virus (termasuk AIDS), melawan kolesterol, anti jamur, anti bakteri, dan dapat meningkatkan sistem imun. Pada jamur tiram, produk ini disebut sebagai plovastinyang di pasaran dikenal sebagai suplemen penurun kolesterol (komponen aktifnya statin yang baik untuk menghambat metabolisme kolesterol di dalam tubuh manusia).
Beta-D-glucans yang ada pada jamur tiram bisa juga diisolasi untuk digunakan dan dicampur pada krim, salep, suspensi, atau bedak untuk perawatan wajah. Formulasi ini ternyata sudah digunakan pada perusahaan kosmetik, (Estee Lauder, Clinique), di mana konsentrasinya 0,5-2 persen. Mekanismenya adalah dengan cara mengikat air sehingga kulit menjadi lembap dan sebagai anti inflamasi. Percobaan terhadap 121 pasien berjerawat kronis, diberikan setiap hari selama 21 hari, hasilnya 73,5 % kondisinya membaik, 18,2 % sembuh total. Oleh karena itu, sasaran dari kegiatan ini adalah mahasiswa IPB dan masyarakat sekitarnya. Peluang usaha sangat menjanjikan karena jumlah mahasiswa IPB setiap angkatan yang berkisar hingga 3000 orang dan relatif bersifat konsumtif.